Welcome To Mas Jawa Blog :
Home » » Ulah Mba Ani

Ulah Mba Ani

Written By muhammad idris on Jumat, 28 Januari 2011 | 19.42

Kejahatan ekonomi terselubung yang dilakukan oleh Sri Mulyani Indrawati(SMI) sungguh luar biasa. Kerugianya bahkan lebih besar dibanding dengan apa yang dilakukan seorang Gayus Tambunan sekalipun. Jika kasus yang dilakukan Gayus merugikan negara hanya Rp.28 milyar, maka kerugian Negara akibat ulah SMI ini bisa mencapai ratusan trilliun rupiah, kasus yang menimpa Gayus pun lebih bersifat insidental, orang sudah mafhum dengan praktek korupsi di lingkungan perpajakan, pengaruhnya pun teramat kecil, akan mudah orang melupakanya, dan mudah saja pemerintah untuk melenyapkanya. Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Mbak Ani, begitu mantan direktur IMF ini disapa.
Sesuai namanya, ‘kejahatan terselubung’, maka ulahnya pun tak banyak diketahui publik, terlebih bagi yang masih awam pemahamnya mengenai makro ekonomi. Semakin sulit lagi orang mengendus kejahatanya mengingat posisinya sebagai menteri keuangan, mudah baginya membungkus semua produk kejahatanya mengatasnamakan kebijakan pemerintah, kita semua tahu hukum negeri ini menyatakan “apapun kebijakan pemerintah tak bisa dikriminalkan”.

Dampaknya pun sangat luar biasa menyengsarakan rakyat. Efeknya berkepanjangan dan lebih kejam dari bentuk praktek korupsi manapun. Kejahatan menteri keuangan yang satu ini merupakan kejahatan sistemik, disebut sistemik karna kejahatanya akan selalu muncul diberengi dengan keluarnya undang-undang baru yang membungkusnya.

Bicara kuantitas kerugianya, selama menjabat menteri keuangan, lebih dari 500 trilliun rupiah uang pembayar pajak negeri ini menguap, angka yang luar bisa fantastis, dana sebesar tersebut bukan menguap untuk biaya kesejahteraan rakyat, melainkan untuk membayar cicilan hutang beserta bunganya kepada asing. bandingkan dengan kasus kelas berat lainya, Bank Century, yang juga ulahnya, hanya merugikan negara 7 trilliun. Ini bisa dimaklumi, pasalnya seluruh kejahatanya tersebut berskala makro ekonomi.

Dikenal sebagai seorang penganut ekonomi pasar, arah kebijakanya pun berorientasi pada investasi asing .Seperti kita ketahui, Kebijakan pasar jelas tak memihak rakyat. Beberapa produk kebijakanya antara lain kebijakan uang ketat(penghapusan subsidi), liberalisasi keuangan, liberalisasi perdagangan dan industri(perdagangan bebas), dan privatisasi. Kesemuanya tak lain merupakan kebijakan terselubung dari IMF maupun Bank Dunia yang di paksakan, sebagai konsekwensi sang debitor atas hutang yang dibuatnya. Maka tak heran jika kebijakanya tak banyak berpihak pada rakyat,

Programnya ditujukan semata untuk keuntungan investor asing semata. Ia pulalah yang membawa bangsa ini pada lingkaran setan hutang luar negeri dengan bunga yang sungguh luar biasa gila, selama menjabat menteri keuangan, dengan alasan membuka kran investasi asing, pemerintah dengan jor-joran menerbitkan obligasi(surat utang negara) dengan bunga 12-18%, dan hampir seluruhnya langsung diborong investor asing. ini jelas tingkat bunga yang sangat menggiurkan. Negara maju pun tak berani menetapkan bunga diatas 5%, jika pemerintah berani mebayar bunga sebesar itu, maka investor mana yang tergiur menempatkan dananya di Indonesia.

Tak cukup dengan menerbitkan obligasi. SMI pun menambah hutang negara melalui penjualan surat berharga lainya seperti ORI(surat pengakuan hutang) maupun berhutang melalui pasar modal. Selama tahun 2009 total hutang pemerintah terhadap asing US$7.1 miliiar dengan bunga setahunya US$3.0 milliar. ini belum termasuk hutang pemerintah pada swasta nasional. Semua hutang itu tentunya harus dibayar oleh APBN alias uang rakyat. Sebuah bentuk penghisapan kekayaan Negara yang memang sengaja dibuka pemerintah.

SMI masih memakai jurus lama ekonomi orde baru, tutup lobang, gali lobang. Ia lunasi hutang IMF, inilah yang ketahui publik dan mendapat apresiasi setinggi langit, namun, siapa yang tuhu, ia bengkakan hutang pada swasta nasional, tentunya dengan tingkat bunga yang gila pula. Yang menikmati hutang pemerintah, tentulah para Bankir dan pengusaha nasional. Selanjutnya, rakyatlah yang dikorbannkan.

Hutang pemerintah sebenranya tak kalah kejamnya dibanding korupsi di negeri ini. Hutang pemerintah yang sebesar Rp.257 trilliun itu harus dibayar beserta bunganya. Untuk membayar bunganya saja, pemerintah kita harus membayar Rp.200 milyar per harinya. Lebih dari cukup untuk memberi beasiswa kuliah gratis selamaa setahun untuk 30.000 anak bangsa, jika diasumsikan biaya per semesrternya Rp.3000.000.

Selama ia menjabat, APBN pun ia buat selalu defisit(pengeluaran lebih besar dari penerimaan). SMI beralasan, penambahan pengeluaran perlu untuk mencapai pertumbuhan nasional 7%, memang, pertumbuhan Indonesia selalu naik selama dirinya menjadi menteri keuangan, ini terjadi karna naiknya konsumsi belanja pemerintah, jika menggunakan pendekatan pendapatan, semakin besar belanja pemerintah, semakin besar pula pendapaatan nasionalnya. Itu artinya, secara tidak sadar, bangsa ini menikmati pertumbuhan ekonomi luar biasa tinggi, bukan dari kerja keras bangsa dari Produk Nasional Bruto(PNB) yang di hasilkan, melainkan dari sifat tamak konsumtif pemerintah yang tak lain di biayayai utang luar negeri.

Pertumbuhan Indonesia yang tak wajar tersebut lebih karna pengaruh masuknya modal asing. Berbeda dengan Cina yang ditopang oleh sektor riil, SMI lebih mengandalkan masuknya hot money, sesuai namanya, hot money adalah uang yang bersifat semantara, karna sewaktu-waktu bisa ditarik oleh empunya(investor). ketika terjadi penarikan dana besar-besaran oleh investor ketika krisis global, indeks saham Indonesia langsung turun drastis, begitu pula dengan rupiah yang langsung anjlog hingga mencapai Rp.11.000 per dollarnya. Itulah sebabnya ekonomi kita takan pernah lepas dari ketergantungan ekonomi pada Amerika Serikat(AS). Krisis ekonomi di AS akan selalu diikiti dengan krisis hebat di Indonesia.

Itu pulalah yang membuat SMI selalu mendapat penghargaan internasional. Jika dibanding menteri keuangan Cina maupun India, prestasi SMI masih kalah jauh dibanding kedua menteri keuangan tersebut. Ini disebabkan kedua menteri keuangan tersebut tak banyak memberikan keuntungan kepada pemodal asing, atas jasanya itulah, SMI selalu mendapat ganjaran beruapa penghargaan dari denia internasional.

Ulah lain yang dilakukan SMI adalah penghapusan subsidi. Belakangan pemerintah mulai mencabut satu persatu subsidi yang diberikan kepada rakyat, dari mulai subsidi BBM, tariff dasar listrik(TDL), pupuk, raskin, hingga kesehatan rakyat miskin. Dampak kenaikan BBM adalah yang paling menyengsarakan rakyat, inflasi naik tak terkendali, akibatnya daya beli masyarakat miskin pun turun, akibatnya, tentulah penderitaan rakyat miskin. Uang “permen” bantuan langsung tunai(BLT) tak sebanding dengan kenaikan biaya bahan makanan pokok.

Dan masih banyak hasil-hasil kejahatan SMI yang tak kalah kejamnya. Kejahatan lain SMI diantaranya Liberlisasi industri dan perdagangan dengan membiarkan industri dalam negeri, terutama Usaha kecil menengah(UKM) dengan pemodal besar dan asing. Begitu pula dengan dengan kebijakan melepaskan asset-aset Negara dengan harga murah meriah kepada swasta dan asing(privatisasi).

Banyak orang mengangap kejahatan–kejahatan SMI adalah sebuah prestasi ekonomi yang patut diapresiasi. Namun itu hanyalah prestasi sesaat, kenikmatan sesaat itu harus dibayar mahal dengan hutang dan terhisapnya sumberdaya negeri ini. SMI telah menjadikan negeri ini “tergadaikan” oleh kapitalisme, sebuah bentuk penjajahan baru dalam dunia modern.
Share this article :

2 komentar:

  1. mampir blogwalking kawan...
    wah, menarik sekali baca ulasan di atas. saya termasuk pengagum bu Sri. bukan cm sy, banyak orang yg sedih skarang ini krn dy harus pergi ke luar gr2 konspirasi politik yang mengharamkan orang yang berkomitmen pada rakyat ikut nangkring di pemerintahan.
    sy tdk begitu paham masalah ekonomi makro (mungkin cocok disebut 'awam'), tp blum lama ini sy berbincang dengan teman dari fakultas ekonomi dan mengatakan keputusan bu Sri sangat tepat dan memiliki landasan teori yang sangat kuat (maksudnya keputusan itu memang harus diambil, karena ada teori yg mengatakan ada kondisi buruk jika terjadi sebuah situasi. ya, bu Sri menghindari situasi itu). oia, yg sy bicarain masalah bank century.
    masalah yg lain sy ga tahu. hehehe
    salam kenal..

    BalasHapus
    Balasan
    1. yah Bung Kunto, "Apa yang kita lihat, kita baca, dan kita dengar, itulah yang membentuk cara berpikir kita, meski pada dasarnya semuanya bertujuan baik". itulah SMI dengan pendidikan ekonomi baratnya (University of Illionis). juga saya pengkritiknya yg jenuh membaca buku materialis sosialis. juga Bung Kunto sendiri.
      salam kenal juga, apa nama blog sdr?

      Hapus

Komentar Terbaru

 
Support : Mas Jawa Official Web | Muhammad Idris | Bejos dan Rekan
Proudly powered by PT MAS JAWA CORP
Copyright © 2014. Mas Jawa - Hak Cipta Mas Jawa Dilindungi Undang-Undang
Template Design by Mas Jawa Official Web Published by Bejos